Darurat Kejahatan Online Scam Simak Sejarah Penipuan Di Asia khususnya di wilayah perbatasan Thailand-Myanmar, kembali menjadi sorotan setelah kasus penculikan dan pembebasan aktor asal China, Wang Xing. Kejadian ini mendorong kerja sama antara Thailand, China, dan Myanmar untuk mengungkap pusat-pusat kejahatan siber yang beroperasi di kawasan tersebut.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sindikat kriminal yang menjalankan pusat-pusat penipuan ini mempekerjakan ratusan ribu orang dan menghasilkan pendapatan ilegal hingga miliaran dolar setiap tahunnya. Mayoritas operasi ini terpusat di Kamboja, Laos, dan Myanmar, dengan modus utama berupa penipuan investasi melalui media sosial dan aplikasi pesan instan.
Salah satu skema yang banyak digunakan dikenal sebagai “pig butchering,” di mana korban dijebak dengan iming-iming keuntungan besar sebelum akhirnya mengalami kerugian besar.
Selain sebagai pusat penipuan daring, lokasi-lokasi ini juga diduga terlibat dalam kegiatan pencucian uang dan perjudian ilegal. Bangkok Post melaporkan bahwa saat ini fokus utama pemberantasan berada di wilayah Myawaddy, Myanmar, yang berbatasan langsung dengan Thailand. Di wilayah ini, pusat-pusat kejahatan siber kerap mendapat perlindungan dari kelompok bersenjata seperti Karen National Army (KNA) dan Democratic Karen Buddhist Army (DKBA).
Darurat Kejahatan Online Scam Simak Sejarahnya
Menurut laporan United States Institute of Peace (USIP), keberadaan pusat-pusat kejahatan Scam ini berawal dari maraknya kasino dan perjudian daring yang kurang mendapat pengawasan pemerintah sejak tahun 1990-an. Seiring perkembangan zaman, aktivitas ini semakin berkembang pada era 2000-an hingga akhirnya menjadi pusat penipuan daring berskala internasional.
Salah satu lokasi utama yang menjadi pusat aktivitas penipuan ini adalah Shwe Kokko di Myawaddy, yang mulai beroperasi sejak tahun 2017. Lokasi ini dikembangkan oleh Yatai International Holdings Group, sebuah perusahaan yang berbasis di Hong Kong, bekerja sama dengan kelompok yang menjadi cikal bakal Karen National Army. Meski pihak perusahaan membantah keterlibatannya dalam aktivitas ilegal, fakta di lapangan menunjukkan bahwa operasi kejahatan daring di perbatasan Myanmar semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkapkan bahwa selama pandemi COVID-19, pusat-pusat kejahatan daring ini berkembang pesat akibat berkurangnya jumlah penjudi akibat pembatasan perjalanan. Hal ini mendorong kelompok kriminal untuk mengalihkan bisnis mereka ke praktik penipuan daring guna mempertahankan aliran pendapatan mereka.
“Banyak operator yang mengubah fasilitas perjudian mereka menjadi pusat penipuan daring,” ungkap laporan CSIS.
Jaringan kejahatan yang sebagian besar berasal dari China ini mengendalikan pusat-pusat penipuan di berbagai negara. Di Myawaddy, keterlibatan kelompok bersenjata seperti KNA semakin memperumit upaya pemberantasan kejahatan ini. Para korban yang berhasil melarikan diri melaporkan bahwa mereka mengalami pemaksaan dan penyiksaan selama berada di pusat-pusat tersebut.
Tidak hanya itu, kelompok yang mendukung junta militer Myanmar juga diduga turut mengoperasikan atau melindungi jaringan penipuan serupa di wilayah perbatasan utara Myanmar dengan China. Hal ini menimbulkan ketegangan diplomatik dengan Beijing, yang semakin gencar menekan pemerintah Myanmar untuk mengambil tindakan tegas.
Penipuan Di Asia Tenggara
Sejumlah negara telah meningkatkan langkah-langkah penindakan terhadap jaringan ini. Thailand, misalnya, telah memutus pasokan listrik, bahan bakar, dan internet ke wilayah Myanmar yang terkait dengan pusat-pusat penipuan. Langkah ini semakin diperkuat setelah kasus penculikan Wang Xing di Thailand pada Januari lalu, yang memicu reaksi keras dari pemerintah dan masyarakat China.
Meskipun aktor tersebut berhasil ditemukan dan dikembalikan ke negaranya, insiden ini mengakibatkan ketidakpercayaan di kalangan wisatawan China terhadap keamanan di Thailand.
Sementara itu, di Myanmar, junta militer melaporkan telah menahan lebih dari 3.700 warga asing yang terkait dengan pusat-pusat penipuan sejak akhir Januari. Dari jumlah tersebut, lebih dari 750 orang telah dideportasi ke negara asal mereka. Bulan lalu, pemerintah China juga mengevakuasi sekitar 200 warganya dari Distrik Mae Sot di Thailand, yang berbatasan langsung dengan Myawaddy.
Saat ini, diperkirakan sekitar 7.000 orang, sebagian besar warga China yang berhasil diselamatkan dari pusat penipuan, masih berada di kamp-kamp pengungsian yang dijalankan oleh KNA dan DKBA.
Upaya pemberantasan juga meluas ke Kamboja. Pihak berwenang di negara tersebut berhasil menyelamatkan lebih dari 215 orang dari pusat penipuan di Kota Poipet, yang berbatasan langsung dengan Distrik Aranyaprathet di Provinsi Sa Kaeo, Thailand.
Baca Juga : Kronologi American Airlines Terbakar Usai Mendarat 12 Org Terluka
Langkah-langkah tegas ini mencerminkan komitmen regional dalam memberantas kejahatan terorganisir yang telah menelan banyak korban dan merusak citra kawasan Asia Tenggara. Kerja sama antara Thailand, China, Myanmar, dan Kamboja menjadi kunci utama dalam memerangi jaringan penipuan daring yang semakin merajalela. Dengan adanya koordinasi yang lebih erat, diharapkan praktik kejahatan ini dapat ditekan secara signifikan dan memberikan perlindungan lebih baik bagi masyarakat yang rentan terhadap praktik penipuan daring.